MENENTUKAN UNSUR- UNSUR PUISI
Aku
Karya : Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Unsur-unsur
Puisi tersebut :
A. Struktur
Fisik Puisi
1. Perwajahan
Tipografi
(Perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi
kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak
selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal
tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Dalam Puisi didefinisikan
atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi
untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan
suasana. Menurut analisis penulis dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar ini
tidak menggunakan tipografi karena dalam tipografi puisi ini tidak menentu ada
yang menggunakan rata kiri ada yang menggunakan rata kanan, tetapi yang sudah
tertera contoh puisi aku di atas menggunakan rata tengah, karena semua
tulisannaya di tengahkan semua.
2.
Imaji
Imaji, yaitu kata atau susunan
kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan,
pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara
(auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji
taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan
merasakan seperti apa yang dialami penyair.
“Kalau sampai waktuku”
Pada
kata kalau sampai waktuku ini penyair itu seakan-akan merasakan bahwa umur aku
ini tidak akan panjang dan akan menghadap sang Tuhan Yang Maha Esa.
“Biar peluru menembus kulitku”
Di
dalam kata ini penyair merasakan bahwa peluru yang ditembakkan ke tubuhnya itu
seakan-akan sudah tertancap.
3.
Bahasa
Figuratif
Bahasa
figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan
menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif
menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya
akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun
macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi,
sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks,
antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
“Aku mau hidup seribu tahun lagi”
Pada
kata ini jikalau pembaca membacanya seakan-akan memancarkan makna yang sangat
mendalam tidak akan mungkin kalau umur Aku pada puisi ini bisa bertahun hidup
sampai seribu tahun lagi, pada era sekarang ini umur seseorang paling maksimal
yaitu 70an tahun, tetapi penyair mengungkapkan pada puisi ini, dia ingin hidup
seribu tahun lagi sangat-sangat tidak mungkin dan sangat mustahil sekali jika
Aku ini bisa bertahan hidup sampai seribu tahun lagi, jika si Aku ini hidup di
zaman sekarang.
4. Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang
dilakukan oleh penyair dalam bahasa puisinya, karena puisi merupakan salah satu
bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka
kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat
kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata Dari itulah dalam
pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan
berkali-kali yang dirasa belum tepat.
“kalau sampai waktuku”
Pemilihan kata pada kata “kalau
sampai waktuku” ini berarti penyair mengungkapkan bahwa kalau hari
ajalnya tiba atau arti lainnya jikalau aku ini mati.
“Ku mau tak seorang ’kan merayu”
Dari bait ini penulis bisa
menganalisis bahwa pemilihan kata si penyair sangat tepat, karena kata “Ku mau
tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”. Penyair tahu
bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa merayu.
“tak perlu sedu sedan“
“Tidak juga kau”
Pada kata ini penyair mengartikan
kata ini bahwa aku ini menganggap bahwa kesedihan itu tidak ada gunannya dan
“Kau” kekasihku, temanku dan lain sebagainya.
5.
Kata
Konkret
Kata
kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan
munculnya imaji, puisi “Aku” ini tidak menggunakan kata-kata yang
terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas
menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut
menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalahnya seorang penyair. Sebagai
gambaran saja seandainya puisi ini diberi judul dengan kata “Saya” betapa tidak
enaknya pembaca dalam mengungkapkannya, dalam puisi ini bahasa keakuan ini
sangat menonjol sekali, tetapi penulis tidak tahu bahwa keakuan siapakah yang
dituangkan oleh pengarang.
6.
Versifikasi
Versifikasi,
yaitu berhubungan dengan rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi
pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
(1)
onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada
puisi Sutadji C.B,
(2) bentuk intern pola bunyi aliterasi,
asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh,
sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan
(3)
pengulangan kata/ungkapan (Waluyo, 187:92). Ritme merupakan tinggi rendah,
panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol dalam pembacaan
puisi. Ritme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada
pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vokal ‘U’ dan ‘I’
B. Struktur Batin Puisi
1.
Tema
/sense
Tema/makna
(sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda
dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait,
maupun makna keseluruhan. Di dalam puisi Aku ini bertemakan tentang perjuanagan
seorang “Aku” dan penulis akan menganalisis tiap bait pada puisi ini
2.
Rasa/Perasaan/
feeling
Rasa
(feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat
dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang
sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis
kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis
dan psikologis, dan pengetahuan. Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur
isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada
puisi di atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari
semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam,
tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika
sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang
terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka,
akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan
luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup.
Oleh sebab itu “Aku” ingin hidup seribu tahun lagi. Semuanya itulah eksprsesi
jiwa seorang pengarang yaitu Chairil Anwar.
3.
Tone/Nada
Nada
(tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, nada juga berhubungan
dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui,
mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan
masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan
rendah pembaca, dll. Di sini ada sedikit perbedaan antara feeling dan tone itu
kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok persoalan puisinya,
sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair
kepada pembacanya. Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata ‘Tidak juga kau’, Kau
yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini.
Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah
mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk.
Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam
puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah
makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang
seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui
dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca
tidak perlu ragu dalam berkarya, berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya,
seperti apa pun bentuk penilaian itu kita terima dengan rasa percaya diri dan
sebagai pertimbangan kebaikan dalam menciptakan karya selanjutnya.
4.
Amanat
Amanat/tujuan/maksud
(itention) yaitu tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi, tujuan
tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat
ditemui dalam puisinya. Amanat dalam Puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang dapat
penulis simpulkan yaitu :
·
Manusia
harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun
rintangan menghadang.
·
Manusia
harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya
saja.
·
Manusia
harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya
itu dapat hidup selama-lamanya.