Rabu, 09 April 2014

MENENTUKAN UNSUR- UNSUR PUISI


MENENTUKAN UNSUR- UNSUR PUISI
Aku
Karya : Chairil Anwar
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi






Unsur-unsur Puisi  tersebut :
A.    Struktur Fisik Puisi
1.      Perwajahan
Tipografi (Perwajahan puisi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. Dalam Puisi didefinisikan atau diartikan sebagai tatanan larik, bait, kalimat, frase, kata dan bunyi untuk menghasilkan suatu bentuk fisik yang mampu mendukung isi, rasa dan suasana. Menurut analisis penulis dalam sajak ‘Aku’ karya Chairil Anwar ini tidak menggunakan tipografi karena dalam tipografi puisi ini tidak menentu ada yang menggunakan rata kiri ada yang menggunakan rata kanan, tetapi yang sudah tertera contoh puisi aku di atas menggunakan rata tengah, karena semua tulisannaya di tengahkan semua.
2.      Imaji
Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.
“Kalau sampai waktuku”
Pada kata kalau sampai waktuku ini penyair itu seakan-akan merasakan bahwa umur aku ini tidak akan panjang dan akan menghadap sang Tuhan Yang Maha Esa.
“Biar peluru menembus kulitku”
Di dalam kata ini penyair merasakan bahwa peluru yang ditembakkan ke tubuhnya itu seakan-akan sudah tertancap.
3.      Bahasa Figuratif
Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.
“Aku mau hidup seribu tahun lagi”
Pada kata ini jikalau pembaca membacanya seakan-akan memancarkan makna yang sangat mendalam tidak akan mungkin kalau umur Aku pada puisi ini bisa bertahun hidup sampai seribu tahun lagi, pada era sekarang ini umur seseorang paling maksimal yaitu 70an tahun, tetapi penyair mengungkapkan pada puisi ini, dia ingin hidup seribu tahun lagi sangat-sangat tidak mungkin dan sangat mustahil sekali jika Aku ini bisa bertahan hidup sampai seribu tahun lagi, jika si Aku ini hidup di zaman sekarang.
4.      Diksi
Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam bahasa puisinya, karena puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata Dari itulah dalam pemilihan kata sering kali penyair menggantikan kata yang dipergunakan berkali-kali yang dirasa belum tepat.
“kalau sampai waktuku”
Pemilihan kata pada kata “kalau sampai waktuku”  ini berarti penyair mengungkapkan bahwa kalau hari ajalnya tiba atau arti lainnya jikalau aku ini mati.
“Ku mau tak seorang ’kan merayu”
Dari bait ini penulis bisa menganalisis bahwa pemilihan kata si penyair sangat tepat, karena kata “Ku mau tak seorang ’kan merayu” Merupakan pengganti dari kata “ku tahu”. Penyair tahu bahwa tidak ada satu orangpun yang bisa merayu.
 “tak perlu sedu sedan“
“Tidak juga kau”
Pada kata ini penyair mengartikan kata ini bahwa aku ini menganggap bahwa kesedihan itu tidak ada gunannya dan “Kau”  kekasihku, temanku dan lain sebagainya.

5.      Kata Konkret
Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji, puisi “Aku” ini tidak menggunakan kata-kata yang terlalu sulit untuk dimaknai, bukan berarti dengan kata-kata tersebut lantas menurunkan kualitas dari puisi ini. Sesuai dengan judulnya, puisi tersebut menggambarkan tentang semangat dan tak mau mengalahnya seorang penyair. Sebagai gambaran saja seandainya puisi ini diberi judul dengan kata “Saya” betapa tidak enaknya pembaca dalam mengungkapkannya, dalam puisi ini bahasa keakuan ini sangat menonjol sekali, tetapi penulis tidak tahu bahwa keakuan siapakah yang dituangkan oleh pengarang.
6.      Versifikasi
Versifikasi, yaitu berhubungan dengan rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup
(1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B,
 (2) bentuk intern pola bunyi aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi (kata), dan
(3) pengulangan kata/ungkapan (Waluyo, 187:92). Ritme merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritme sangat menonjol dalam pembacaan puisi. Ritme dalam puisi yang berjudul ‘Aku’ ini terdengar menguat karena ada pengulangan bunyi (Rima) pada huruf vokal ‘U’ dan ‘I’

B.     Struktur Batin Puisi
1.      Tema /sense
Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. Di dalam puisi Aku ini bertemakan tentang perjuanagan seorang “Aku”  dan penulis akan menganalisis tiap bait pada puisi ini
2.      Rasa/Perasaan/ feeling
Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Feeling atau Rasa merupakan salah satu unsur isi yang dapat mengungkapkan sikap penyair pada pokok persoalan puisi. Pada puisi di atas merupakan eskpresi jiwa penyair yang menginginkan kebebasan dari semua ikatan. Di sana penyair tidak mau meniru atau menyatakan kenyataan alam, tetapi mengungkapkan sikap jiwanya yang ingin berkreasi. Sikap jiwa “jika sampai waktunya”, ia tidak mau terikat oleh siapa saja, apapun yang terjadi, ia ingin bebas sebebas-bebasnya sebagai “aku”. Bahkan jika ia terluka, akan di bawa lari sehingga perih lukanya itu hilang. Ia memandang bahwa dengan luka itu, ia akan lebih jalang, lebih dinamis, lebih vital, lebih bergairah hidup. Oleh sebab itu “Aku” ingin hidup seribu tahun lagi. Semuanya itulah eksprsesi jiwa seorang pengarang yaitu Chairil Anwar.


3.      Tone/Nada
Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya, nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. Di sini ada sedikit perbedaan antara feeling dan tone itu kalau feeling menggambarkan sikap penyair kepada pokok persoalan puisinya, sedangkan tone atau nada merupakan unsur isi yang menggambarkan sikap penyair kepada pembacanya. Dalam Puisi ‘Aku’ terdapat kata ‘Tidak juga kau’, Kau yang dimaksud dalam kutipan diatas adalah pembaca atau penyimak dari puisi ini. Ini menunjukkan betapa tidak pedulinya Chairil dengan semua orang yang pernah mendengar atau pun membaca puisi tersebut, entah itu baik, atau pun buruk. Disamping Chairil ingin menunjukkan ketidakpeduliannya kepada pembaca, dalam puisi ini juga terdapat pesan lain dari Chairil, bahwa manusia itu itu adalah makhluk yang tak pernah lepas dari salah. Oleh karena itu, janganlah memandang seseorang dari baik-buruknya saja, karena kedua hal itu pasti akan ditemui dalam setiap manusia. Selain itu, Chairil juga ingin menyampaikan agar pembaca tidak perlu ragu dalam berkarya, berkaryalah dan biarkan orang lain menilainya, seperti apa pun bentuk penilaian itu kita terima dengan rasa percaya diri dan sebagai pertimbangan kebaikan dalam menciptakan karya selanjutnya.
4.      Amanat
Amanat/tujuan/maksud (itention) yaitu tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi, tujuan tersebut bisa dicari  sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. Amanat dalam Puisi ‘Aku’ karya Chairil Anwar yang dapat penulis simpulkan yaitu :
·         Manusia harus tegar, kokoh, terus berjuang, pantang mundur meskipun   rintangan menghadang.
·         Manusia harus berani mengakui keburukan dirinya, tidak hanya menonjolkan kelebihannya saja.
·         Manusia harus mempunyai semangat untuk maju dalam berkarya agar pikiran dan semangatnya itu dapat hidup selama-lamanya.

3 komentar:

  1. Kunjungan perdana.... Salam Bloger..

    BalasHapus
  2. Wynn Resorts Casino Names Julie Cameron-Doe as - DrMCD
    Wynn Resorts 군포 출장마사지 announced today the appointment of Julie Cameron-Doe as its 영천 출장샵 new 경주 출장안마 Chief Operating Officer and 안산 출장안마 Chief Operating Officer. 하남 출장마사지

    BalasHapus